DPRK Usul Indomaret Tutup Sehari Saat Lebaran di Banda Aceh

Parlementaria8 Dilihat
banner 468x60

BANDA ACEH — Momentum Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kembali menjadi perhatian berbagai kalangan di Kota Banda Aceh. Salah satu sorotan datang dari anggota DPRK Banda Aceh, Irwansyah, SE, yang mengusulkan agar seluruh gerai Indomaret tidak beroperasi pada hari pertama Lebaran.

Usulan tersebut disampaikan sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Islam yang merayakan hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Menurut Irwansyah, Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan momen sakral yang seharusnya diisi dengan ibadah, silaturahmi, serta kebersamaan bersama keluarga.

banner 336x280

Ia menegaskan bahwa pada hari pertama Lebaran, masyarakat umumnya memulai aktivitas dengan menunaikan salat Idulfitri, dilanjutkan dengan tradisi saling bermaafan dan berkunjung ke rumah sanak saudara. Oleh karena itu, aktivitas komersial seperti operasional minimarket dinilai tidak mendesak untuk tetap berjalan pada hari tersebut.

“Ini adalah hari yang sangat istimewa bagi umat Islam. Kita ingin suasana Idulfitri benar-benar terasa khidmat, tanpa terganggu oleh aktivitas ekonomi yang sebenarnya bisa ditunda,” ujarnya.

Politisi dari Partai Gerindra itu juga menilai bahwa penutupan operasional selama satu hari penuh tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap kinerja perusahaan. Sebaliknya, kebijakan tersebut justru akan memberikan nilai positif dari sisi sosial dan religius, terutama di daerah seperti Banda Aceh yang dikenal menerapkan nilai-nilai syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Irwansyah turut mengingatkan bahwa kebijakan serupa bukan hal baru. Pada sejumlah momen keagamaan sebelumnya, pembatasan aktivitas usaha pernah dilakukan dan mendapat respons positif dari masyarakat. Hal ini menunjukkan adanya dukungan publik terhadap upaya menjaga kekhusyukan hari-hari besar keagamaan.

Lebih lanjut, ia berharap Pemerintah Kota Banda Aceh, khususnya Wali Kota, dapat mempertimbangkan aspirasi tersebut secara bijak. Menurutnya, kebijakan yang berpihak pada nilai-nilai kearifan lokal dan religiusitas masyarakat akan memperkuat identitas daerah sekaligus menciptakan suasana yang lebih harmonis.

“Ini bukan tentang melarang orang berusaha, tetapi bagaimana kita menghormati hari besar umat Islam. Kita ingin Idulfitri dirasakan sebagai momen penuh makna, bukan sekadar hari libur biasa,” tambahnya.

Usulan ini pun memantik diskusi di tengah masyarakat. Sebagian warga menilai langkah tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan nilai agama, sementara yang lain berharap adanya keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan sosial.

Di tengah dinamika tersebut, keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah daerah. Namun satu hal yang pasti, semangat menjaga kesakralan Idulfitri tetap menjadi harapan bersama masyarakat Banda Aceh.(**)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed