Gayo Lues|Seulawah.my.id – Program Grand Design Alternative Development (GDAD) yang diinisiasi Badan Narkotika Nasional (BNN) mulai menunjukkan hasil nyata di Kabupaten Gayo Lues. Masyarakat yang sebelumnya menggantungkan hidup dari penanaman ganja ilegal kini beralih menjadi petani kopi produktif dengan peluang pasar yang semakin terbuka.
Keberhasilan tersebut terlihat saat Kepala BNN Provinsi Aceh, Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si., meninjau langsung perkebunan kopi di Gampong Agusen dan pabrik pengolahan kopi di Gampong Porang, Kabupaten Gayo Lues, Sabtu (7/11/2026).
Kunjungan tersebut turut didampingi Kepala BNNK Gayo Lues beserta jajaran dan Keuchik Gampong Agusen. Dalam kesempatan itu, Dedy melihat perkembangan perkebunan kopi, proses pengolahan dengan sistem fermentasi buah merah, serta berdialog dengan para petani binaan BNN.
Ia mengapresiasi komitmen masyarakat yang telah meninggalkan kultivasi ganja dan beralih mengembangkan perkebunan kopi sebagai sumber penghidupan yang legal dan berkelanjutan.
“Perubahan yang kita saksikan di Gampong Agusen merupakan bukti bahwa pendekatan Alternative Development mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. BNN tidak hanya mengajak masyarakat meninggalkan penanaman ganja, tetapi juga memberikan alternatif ekonomi, melakukan pendampingan, dan membantu membuka akses pasar agar hasil perkebunan mereka memiliki nilai jual yang menjanjikan,” ujar Dedy.
Keberhasilan program GDAD di Gayo Lues merupakan hasil pendampingan berkelanjutan yang dilakukan BNNP Aceh melalui BNNK Gayo Lues. Program tersebut diawali dengan pendekatan persuasif dan dialog langsung untuk mengajak masyarakat meninggalkan penanaman ganja ilegal.
Pendampingan tidak hanya berfokus pada penggantian tanaman, tetapi juga mencakup pengembangan perkebunan, peningkatan kualitas tanaman, pengelolaan hasil panen hingga pemasaran.
BNN memahami bahwa perubahan mata pencaharian harus diikuti dengan kepastian ekonomi. Karena itu, BNN turut menginisiasi pembentukan Koperasi Kopi Gayo Lues Bersinar serta menjalin kemitraan dengan PT Ujang Jaya International dan Starbucks sebagai mitra penerima hasil produksi kopi petani.
Kemitraan tersebut diharapkan memperkuat rantai pemasaran, memperluas akses pasar dan meningkatkan nilai jual kopi yang dihasilkan masyarakat.
Perkembangan program GDAD terlihat dari peningkatan luas perkebunan kopi di Gampong Agusen. Jika pada 2016 luas kebun kopi binaan BNN baru sekitar 70 hektare, kini telah berkembang menjadi 250 hektare.
Secara keseluruhan, program GDAD di Kabupaten Gayo Lues telah merangkul 3.346 petani dengan total luas perkebunan kopi mencapai 3.554,6 hektare yang tersebar di 11 kecamatan.
Capaian tersebut menunjukkan perubahan pola mata pencaharian masyarakat mulai berkembang menjadi gerakan ekonomi produktif yang memberikan manfaat nyata.
Dampak ekonomi juga terlihat dari peningkatan harga jual kopi di tingkat petani. Jika sebelumnya harga kopi berada pada kisaran Rp18.600 per kilogram, kini meningkat menjadi sekitar Rp68.000 per kilogram.
Bahkan, untuk varian tertentu seperti kopi wine, harga jualnya dapat mencapai Rp185.000 per kilogram.
Peningkatan harga tersebut menjadi motivasi tambahan bagi petani untuk terus merawat dan mengembangkan perkebunan kopi. Terlebih, akses pemasaran yang semakin terbuka memberikan peluang bagi masyarakat untuk memperoleh pendapatan lebih baik.
Dalam dialog bersama Kepala BNNP Aceh, Keuchik Gampong Agusen menyampaikan bahwa masyarakat telah merasakan perubahan besar setelah beralih dari penanaman ganja ke perkebunan kopi.
Kesadaran untuk meninggalkan tanaman ganja semakin kuat karena manfaat ekonomi dari komoditas kopi telah dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dedy menegaskan, pemberantasan narkotika tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan penegakan hukum. Diperlukan strategi komprehensif yang turut menyentuh akar persoalan, termasuk faktor ekonomi yang mendorong sebagian masyarakat terlibat dalam kultivasi ganja.
Melalui program GDAD, BNN berupaya menghadirkan solusi dengan menyediakan alternatif usaha, pendampingan berkelanjutan, peningkatan kualitas produksi hingga membuka akses pemasaran.
Transformasi Gampong Agusen menjadi bukti bahwa dengan pendampingan dan peluang ekonomi yang memadai, masyarakat dapat membangun kehidupan yang lebih baik tanpa bergantung pada tanaman terlarang.
Dari ladang ganja menuju kebun kopi, masyarakat Gayo Lues kini menatap masa depan melalui ekonomi produktif yang legal dan berkelanjutan.
BNNP Aceh berkomitmen terus mengembangkan program GDAD sebagai salah satu instrumen strategis untuk memutus mata rantai kultivasi ganja sekaligus mewujudkan Gayo Lues yang sejahtera dan Bersih Narkoba (BERSINAR).(*)

















